Wednesday, September 19, 2012

Contoh – contoh Interaksi Sosial


Apa sajakah contoh dari Interaksi Sosial itu sendiri?
Contoh interaksi sosial bisa kita temui dalam kehidupan kita sehari – hari.
Contohnya adalah ketika kita sedang bingung dalam mengerjakan tugas dari dosen, kita bisa bertanya kepada teman kita. Contoh tersebut merupakan salah satu contoh interaksi sosial antara satu individu dengan individu lainnya.
Contoh dari Interaksi Sosial antara satu individu dengan kelompok, yaitu kita sebagai anak tentunya membutuhkan bantuan dari orang tua baik itu dalam hal materil ataupun hal lainnya. Tentunya dalam penerapan contoh tersebut akan terjadi interaksi sosial
Contoh dari Interaksi Sosial antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, yaitu ketika suatu kelompok akan melakukan demonstrasi tentunya mereka membutuhkan polisi sebagai keamanan selain itu mereka pula membutuhkan dukungan dari masyarakat dan pihak – pihak lainnya agar semuanya berjalan lancar.
¿  Pendapat saya mengenai interaksi social adalah menurut saya interaksi social sangat penting dalam kehidupan manusia mengingat manusia merupakan mahluk social maka, tiap – tiap manusia sangat membutuhkan untuk berhubungan dengan orang lain atau bersosialisasi antar manusia dan lingkungan nya.
NC











interaksi sosial

Interaksi sosial sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kita adalah makhluk sosial yang berarti kita tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan bantuan orang lain. Sebelum mengetahui apa saja contoh – contoh interaksi sosial kita akan membahas terlebih dahulu definisi interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara satu manusia dengan manusia lainnya. Jenis interkasi sosial dibagi menjadi 3 yaitu : interaksi sosial antara suatu individu dengan individu lainnya, yang kedua interaksi sosial antara suatu individu dengan kelompok dan yang terakhir interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok. Dari jenis – jenis yang di atas kita dapat menguraikan nya menjadi contoh – contoh interaksi sosial .
1.       Interkasi sosial antara individu dengan individu
Contoh : jika kita kesulitan dalam mengerjakan soal kita dapat bertanya   kepada guru kita
                Bila kita tidak masuk sekolah kita dapat menanyakan pelajaran kepada teman
                Sekelas kita.
2.       Interaksi sosial antara individu dengan kelompok
Interkasi sosial dengan kelompok bukan berarti hanya sebatas kelompok saja tetapi bisa kepada keluarga kita juga.
Contoh : kita membutuhkan dana untuk bersekolah
                  Jika kita kesulitan dengan pelajaran tertentu kita dapat bergabung / menanyakan            pelajaran tersebut kepada kelompok/club pelajaran tersebut.
3.       Interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok
Contoh : ketika suatu kelompok ingin berdemonstrasi mereka tentunya memerlukan polisi untuk menjamin keamanan . itu berarti mereka telah melakukan interaksi kelompok dengan kelompok (polisi).


            





Komentar saya terhadap bacaan diatas ini adalah interaksi sosial memang sangat penting sekali dalam kehidupan sehari – hari. Jika kita tidak berinteraksi dengan orang lain sama saja hal nya kita tidak membutuhkan bantuan orang lain - kz

Tuesday, September 18, 2012

Interaksi Sosial


INTERAKSI SOSIAL


Interaksi sosial ialah hubungan antar manusia, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Ciri terjadinya sebuah interaksi sosial tentu saja dengan adanya hubungan serta komunikasi timbal balik dari masing-masing individu, sebab syarat utama bagi setiap makhluk hidup untuk dapat berinteraksi tentu saja komunikasi. Tanpa adanya komunikasi, sebuah interaksi tidak akan terjadi, sebab manusia tidak memiliki kemampuan telepati—semua yang kita pikirkan tidak akan terbaca begitu saja, butuh sebuah kemampuan berhubungan khusus yang disebut komunikasi. Lalu harus ada dua pihak yang terlibat, karena tidak mungkin manusia berinteraksi dengan dirinya sendiri. Dan yang terakhir, harus ada tujuan yang dicapai dari hasil interaksi tersebut. Pepatah “Everything happens for a reason” memang benar adanya. Sekalipun interaksi sosial tersebut hanya sebagai formalitas belaka, hal tersebut memiliki tujuan, yaitu untuk menjaga sopan santun atau menjaga sikap didepan banyak orang.

Seperti yang telah disebutkan diatas, interaksi sosial terbagi menjadi tiga jenis, salah satunya ialah individu dengan individu. Individu dengan individu dapat dikatakan sebagai hubungan sosial secara pribadi atau privat yang hanya melibatkan dua pihak sebagai seorang individu. Contoh interaksi sosial individu dengan individu salah satunya ialah seorang siswa yang sedang bercakap-cakap dengan ibunya, atau seorang ayah yang tengah berbicara pada putranya. Biasanya, hubungan individu dengan individu ini melibatkan emosi yang kuat—walau ada yang hanya sambil lalu; misalnya hanya sekedar menanyakan nama jalan, nama tempat, dan sebagainya. Lalu, kebanyakan yang dibicarakan pada tingkat interaksi ini adalah hal penting, misalnya menasihati, atau menumpahkan curahan hati pada orang terpercaya.

Jenis interaksi sosial yang kedua, individu dengan kelompok. Individu dengan kelompok terjadi bila seseorang melakukan interaksi dengan sebuah kelompok. Interaksi sosial pada tingkat ini melibatkan antara satu orang dengan sebuah kelompok. Contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok, misalnya adalah seorang guru yang tengah menjelaskan materi kepada siswa-siswanya, lalu seorang narasumber yang berbicara terhadap audiens dalam sebuah seminar. Kegiatan interaksi sosial antara individu dengan kelompok lebih bersifat formal, sebab kegiatan ini lebih sering ditemukan dalam kegiatan formal layaknya seminar, sekolah, rapat, dan sebagainya. Interaksi sosial jenis ini jarang ditemukan perpecahan, sebab pada pada saat interaksi berlangsung, emosi yang terikat tidak begitu kuat dan lagi biasanya hubungan individu dengan kelompok tersebut hanya formalitas belaka, artinya, sebagai rekan kerja atau sebagai narasumber dan audiensnya, mereka berinteraksi, namun sebagai teman atau sahabat, hal ini jarang ditemukan.

Dan yang terakhir, interaksi sosial kelompok dengan kelompok. Hal ini banyak terjadi di masyarakat, walau acuan pada interaksi jenis ini kebanyakan negatif. Sebagai contoh sederhana tentang interaksi antar kelompok ini adalah tawuran antar dua kelompok pelajar, lalu perselisihan pendapat antara dua fraksi politik dalam masyarakat. Namun ada juga sisi positif dari interaksi antar kelompok, misalnya terjalinnya kerja sama antar perusahaan atau antar organisasi. Kegiatan interaksi antar kelompok ini biasa ditemukan dalam kegiatan yang melibatkan dua kelompok atau lebih, dan biasanya bersifat formal. Pada jenis interaksi sosial ini, probabilitas terjadinya perpecahan cukup besar—dalam konteks ini, perpecahan tidak selalu berarti perselisihan yang sesungguhnya, namun perbedaan pendapat yang tidak juga memunculkan kesepakatan juga termasuk.

Setelah jenis, terdapat bentuk-bentuk interaksi sosial. Bentuk interaksi sosial dibagi menjadi dua, yaitu asosiatif dan disosiatif. Asosiatif lebih mengarah pada kerja sama, sementara disosiatif ialah sebaliknya, yaitu pertentangan. Bentuk-bentuk asosiatif ada empat, yaitu; kerja sama atau usaha setiap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama, lalu akomodasi atau usaha untuk menyelesaikan pertikaian atau konflik yang terjadi, selanjutnya ada asimilasi atau berpadunya dua budaya yang menghasilkan sebuah budaya baru, dan yang terakhir adalah akulturasi atau berpadunya dua budaya baru yang menghasilkan budaya baru namun tetap tidak kehilangan unsur dari budaya asli tersebut. Sementara bentuk-bentuk disosiatif ada tiga, yaitu; persaingan atau sebenarnya lebih tepat disebut dengan persaingan yang tidak sehat, lalu kontravensi atau sebuah keadaan diantara persaingan dan pertikaian, dalam kata lain bisa disebut sebagai perang tertutup, saling menjatuhkan tetapi dalam keadaan diam atau tenang, dan yang terakhir pertentangan atau konflik, sebuah perjuangan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menghalalkan segala cara.

Dalam pembahasan kali ini, saya tertarik untuk membahas tentang asimilasi. Asimilasi terjadi karena memiliki faktor pendukung, yakni toleransi, faktor menghargai kebudayaan lain, sikap terbuka, persamaan unsur kebudayaan, perkawinan campuran, adanya kesamaan musuh dari luar, dan sebagainya. Selain faktor pendukung, asimilasi juga memiliki faktor penghambat, yaitu; terisolasinya sebuah kelompok masyarakat dari dunia luar, lalu ketertutupan, tidak adanya toleransi, ketakutan terhadap budaya baru yang akan dihadapi, dan sebagainya. Asimilasi termasuk kedalam interaksi sosial karena tanpa ada interaksi sosial antar individu dan kelompok, asimilasi tidak akan terjadi.

Dalam kasus asimilasi, saya ingin membahas tentang kehidupan di Indonesia. Sejak dahulu, Indonesia dikenal sebagai negara dengan budayanya yang amat kaya, namun lambat laun kekayaan budaya tersebut hampir hilang—tertelan oleh globalisasi, budaya yang menjadi gaya hidup orang kebanyakan kini, acap kali disebut oleh budaya barat oleh orang awam. Asimilasi di Indonesia terjadi sejak dahulu, namun baru kini rasanya dampaknya kian parah. Ancaman-ancaman akan kepunahan budaya seolah terus menghantui. Dan makin kesini, faktor pendorong terjadinya asimilasi makin besar. Salah satunya faktor toleransi yang makin besar dari masyarakat itu sendiri dan terutama dari generasi muda masa kini. Sehingga saat budaya yang bersumber dari globalisasi itu sendiri bercampur dengan budaya Indonesia, maka akan ada sebuah budaya ala Indonesia masa kini. Dimana banyak orang meniru gaya-gaya yang kini mendunia, menganggap kuno budaya sendiri, obsesi terhadap kehidupan di negara maju yang memiliki ikon sebagai trendsetter dunia.

Menurut saya, filter budaya masa kini sudah hampir hilang. Semua orang terbuka terhadap segala macam perubahan. Bersikap terbuka boleh-boleh saja, mengikuti arus globalisasi masa kini pun sangat disarankan karena banyak perkembangan yang menyokong kehidupan masa kini disebabkan oleh globalisasi. Namun, harap diperhatikan ialah, kita memiliki budaya yang wajib dilestarikan. Saya tidak memaksa anda untuk mengenakan batik, kebaya, baju koko dan semacamnya. Tetapi, harap diingat kalau Indonesia masa depan akan diemban para anak-anak muda masa kini. Bila asimilasi seperti ini terus berlanjut, maka masa depan tidak akan terjamin, sebab bila seseorang tidak mengenal bangsanya sendiri, maka ia tidak akan pernah mencintai bangsanya, dan seseorang tanpa kecintaan terhadap bangsanya, tidak akan bisa memimpin.
Dari salah satu contoh kasus diatas, dapat disimpulkan pula bahwa interaksi sosial memiliki efek yang sangat besar bila tidak berhati-hati. Mungkin awal dari asimilasi budaya globalisasi ala Indonesia hanya disebabkan oleh interaksi satu atau dua orang dengan berbagai orang yang telah mengikuti arus globalisasi yang kini hampir tidak punya batasan. Dan kita kini harus menjaga interaksi kita dengan sesama. Selain itu, berhati-hati dengan interaksi sosial dapat menyelamatkan diri kita dari berbagai konflik serta pertentangan yang terjadi. Bila telah terlibat dalam sebuah pertentangan, perhatikanlah etika sehingga konflik tidak memanas atau memuncak.

Interaksi sosial sangat besar manfaat, kaitan serta akibatnya dalam kehidupan manusia, sebab pada dasarnya, manusia ialah makhluk sosial dan bukannya individu. Sebagai makhluk sosial, maka dibuatlah norma dan batasan dalam kehidupan berinteraksi agar bagaimana akibat-akibat negatif yang ditimbulkan tidak terjadi begitu saja. Sekalipun begitu, interaksi sosial tidak akan pernah lepas bagi manusia, tidak peduli kapanpun ia mendatangkan masalah atau sebuah keuntungan.


Cirebon, 18092012 – scarlet on snow

Interaksi Sosial - Antar kelompok dengan kelompok


1.     Pengertian Interaksi Sosial

Kodrat manusia sebagai makhluk sosial adalah keinginannya untuk selalu hidup bersama dengan orang lain dalam suatu kelompok atau masyarakat. Tidak seorang pun di dunia ini yang mampu hidup sendiri tanpa melakukan hubungan atau kerja sama dengan orang lain. Karena pada kodratnya manusia memiliki keterbatasan dan sejak lahir sudah dibekali dengan naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Misalnya, seorang balita memerlukan perawatan dan bantuan ibunya karena ia belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Selanjutnya, ia memerlukan pemeliharaan kesehatan, pendidikan, dan pergaulan.
Dari contoh tersebut jelas bahwa pada dasarnya kita selalu membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan banyak hal dalam hidup kita. Semua kebutuhan hidup itu hanya dapat kita penuhi dengan jalan mengadakan hubungan sosial dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Melalui hubungan itu kita menyampaikan maksud, tujuan, dan keinginan untuk mendapatkan tanggapan (reaksi) dari pihak lain. Hubungan timbal balik (aksi dan reaksi) inilah yang kita sebut interaksi sosial. Jadi apakah yang dimaksud dengan interaksi sosial? Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik berbentuk kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian.

2.     Jenis - jenis Interaksi Sosial
·        Interaksi Antara Individu dengan Individu
·        Interaksi Antara individu dengan kelompok
·        Interaksi Antara Kelompok dengan kelompok

Ada banyak sekali contoh interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, baik itu interaksi antara individu, interaksi antara individu dengan kelompok, maupun interaksi antara kelompok dengan kelompok.
Dan kita pun pasti melakukan salah satu interaksi sosial tersebut setiap harinya. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas salah satu bentuk atau jenis interaksi sosial yang biasa dilakukan oleh  warga negara kita. Yaitu interaksi antara kelompok dengan kelompok yang berupa tawuran antar sekolah.

Jika kita mendengar kata "tawuran" sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak ? Hampir setiap minggu atau bulan, media massa dipenuhi oleh berita mengenai adanya tawuran antar sekolah maupun pelajar. Inilah fenomena yang sering terjadi di negara tercinta kita, Indonesia. Sungguh ironis memang.

Tawuran antar pelajar maupun antar sekolah semakin marak terjadi dikarenakan adanya geng-geng yang tercipta di sekolah. Perilaku anarki selalu saja dipertunjukkan di depan publik. Dimana mereka sepertinya tidak merasakan rasa malu karena tindakan tersebut, melainkan mereka merasa bangga karena ditakuti. Seharusnya seorang pelajar tidak melakukan hal semacam itu, namun apa daya. Mereke mudah untuk terpancing emosi oleh pelajar dari sekolah lain sehingga tawuran pun tak dapat dihindarkan. Seharusnya mereka sadar akan perbuatan mereka, bahwa perbuatan mereka itu salah.

Tawuran ini pun juga menimbulkan dampak negatif, dimana secara fisik dengan adanya tawuran ini. Para pelajar mendapati luka-luka karena perkelahian tersebut. Lalu kerusakan bangunan gedung sekolah seperti kaca pecah terkena lemparan batu atau mungkin kerusakan kendaraan bermotor. Kalau secara mental, kegiatan tawuran ini dapat menimbulkan trauma pada korban tawuran yang secara tidak langsung menggangu kehidupannya dikelak kemudian hari, merusak generasi muda, serta menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia.


Dari contoh Interaksi sosial di atas, maka interaksi sosial tersebut termasuk kedalam interaksi sosial yang bersifat Dissosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk-bentuk pertentangan atau konflik. Dimana konflik adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam jarak pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

Lalu menurut saya, hal yang saya sebutkan di atas sangatlah mengecewakan. Seharusnya mereka semua memiliki kesadaran diri sendiri akan perbuatan yang mereka telah lakukan. Pihak sekolah juga diharapkan memberi sanksi yang sangat keras kepada muridnya yang melakukan tawuran, seperti dikeluarkan atau di dropout dari sekolah, sehingga jika ada yang ingin tawuran, mereka akan berpikir berpuluh-puluh kali lipat jika ingin melakukannya. Karena bagaimanapun juga, mereka adalah asset bangsa dan negara kita yang sangat berharga dan harus dijaga untuk membangun bangsa ini. Jika generasi muda hancur, maka bangsa dan negara kita pun akan ikut hancur atau runtuh pula dikarenanakan tidak ada yang dapat melanjutkan pemerintahan atau bekerja membangun negara ini sehingga menjadi negara yang maju. Diharapkan untuk kedepannya, para pelajar mempunyai kesadaran serta iman yang kuat untuk bertobat dari perbuatan-perbuatan tidak terpuji tersebut, sehingga generasi muda pun tidak menjadi rusak. Sehingga kelak dikemudian hari, para generasi muda dari sekarang dapat membawa perubahan yang besar bagi Indonesia yaitu menuju kesuksesan. Dan kita semua pun dapat BANGGA menjadi warga Negara Republik Indonesia.



-N7-

Interaksi Sosial - Diplomasi


Interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok. Interaksi sosial itu sendiri dapat dibagi dalam berbagai macam, seperti : Interaksi antara individu dan individu, interaksi antara individu dan kelompok, dan interaksi sosial antara kelompok dan kelompok. Interaksi sosial juga dapat dibagi dalam berbagai bentuk, yaitu :  Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan), dan Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik.

Sangat banyak contoh interaksi sosial di kehidupan sehari-hari di sekeliling kita, kita sendiri pun pasti setiap hari melakukan interaksi sosial. Disini saya akan membahas salah satu contoh interaksi sosial oleh negara kita, yaitu ketika adanya ancaman pemutusan hubungan diplomatik oleh Papua Nugini. Hal ini disebabkan oleh kegiatan yang dilakukan oleh dua jet tempur TNI AU untuk melakukan pengamatan sosial terhadap pesawat asing yang memasuki wilayah udara NKRI. Lalu timbul masalah,  yakni terjadi insiden pesawat tempur TNI AU akan menabrak pesawat yang ternyata pesawat tersebut ditumpangi oleh rombongan Wakil Perdana Menteri Papua Nugini, Belden Namah . Lalu, timbul juga masalah tentang ketidaksesuaian isi dokumen penerbangan dengan pesawat yang melintas. Insiden yan melibatkan TNI AU tersebut diprotes oleh Wakil Perdana Mentri Papua, Beliau mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik antar negara. Lalu beliau juga memanggil Dubes RI untuk Papua Nugini, Andreas Sitepu. Tetapi panggilan tersebut tidak dipenuhi, karena yang berhak memanggil perwakilan negara asing (KBRI) hanya pihak Kementrian Luar Negeri negara terkait.


Lalu Presiden RI mengatakan agar penyelesaian masalah dengan negara tetangga, khususnya Papua Nugini harus diselesaikan secara baik-baik. Peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada 29 November 2011, tetapi baru mencuat ketika Dubes Papua Nugini untuk Indonesia, Peter Ilau, mendatangi Kemenlu. Beliau dipanggil untuk diberikan penjelasan oleh Kemenlu RI terkait masalah yang terjadi. Setelah pemanggilan tersebut, Dubes Papua Nugini untuk RI sangat mengapresiasi penjelasan yang dilakukan oleh Pihak RI. Selanjutnya pihak Kemenlu RI yang diwakili Menlu, Marty Natalegawa, mengklarifikasi hal serupa pada Perdana Menteri Papua Nugini. Dan akhirnya, permasalahan tersebut dapat terselesaikan secara baik.


Dari proses diplomasi yang dilakukan oleh Kemenlu RI, dapat dilihat bahwa langkah diplomasi yang dilakukan oleh pihak Indonesia sangatlah baik. Sangatlah bagus untuk menjaga hubungan antar negara lain, hal tersebut dapat berdampak bagi ekonomi, sosial, politik, hukum, dsb. Indonesia yang juga dapat menguntungkan kita dan dapat berdampak pada pembangunan negara kita kelak. Namun, memang sudah seharusnya, Indonesia yang merupakan negara yang berlandaskan Pancasila, menjunjung tinggi kedamaian dalam segala aspek di kehidupan bangsanya, kehidupan antar masyarakat maupun seperti yang telah diuraikan diatas, yaitu interaksi dengan negara lain, sehingga persoalan-persoalan semacam itu dapat diselesaikan dengan baik melalui jalur diplomasi. Menurut saya, Indonesia harus lebih meningkatkan kehidupan negaranya dengan menjunjung tinggi kedamaian. Saya berharap, bukan saja hubungan antara negara lain yang baik, tapi kehidupan masyarakat di dalam negara kita pun harus diperbaiki sehingga kehidupan negara menjadi baik dan damai, tidak ada lagi diskriminasi dan hal-hal buruk lain yang dapat mencegah kedamaian. Diharapkan  kedepannya Indonesia bisa ikut mendukung kedamaian dunia. (YKT)






Kampanye Terakhir Pilkada DKI Jakarta

Pihak Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama :

Hari terakhir kampanye putaran kedua Pilkda DKI Jakarta, pasangan Joko Widodo atau Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berjoget di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, berbarengan dengan hari bebas kendaraan, pada pagi Hari Minggu, 16 September 2012

Dengan mengenakan kemeja kotak-kotak yang kancingnya dilepas, Jokowi mengangkat tangan untuk berjoget. Sejumlah pendukung pasangan pun ikut turut bergoyang.

Tak lupa, Jokowi-Ahok pun menyampaikan janji janji kepada masyarakat jika terpilih menjadi gubernur DKI. Pasangan Jokowi-Ahok akan bersaing dengan pasangan Foke-Nara pada pemilihan gubernur DKI Hakarta di putaran kedua yang akan berlangsung pada 20 



Pihak Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli :


Pada kampanye hari terakhir ini, Fauzi Bowo didampingi oleh keluarganya. Bersama istri tercinta, Sri Hartati Bowo, dirinya menikmati aksi break dance anak muda di sekitar bundaran Hotel Indonesia pada Hari Minggu, 16 September 2012.

Tidak hanya itu, putra pertamanya yaitu Humar Ambiya dan putri keduanya yaitu Esti Amanda Bowo juga tampak mendampingi ayahnya berkeliling bundaran HI. Kedua cucunya juga terlihat di samping kakeknya. Keluarga tersebut kompak mengenakan kaos putih dipadu dengan training pack dan sepatu olah raga.
Meski kondisi di Bundaran HI panas terik, tak ada guratan lelah di wajah pria berkumis ini beserta keluarganya.
Selama dua hari kampanye, pria yang berpasangan bersama Nachrowi Ramli ini jarang tampak turun ke lapangan bersama keluarganya. Namun kali ini, kehadiran keluarga membuktikan dukungan yang solid untuk Foke pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012.


Menurut saya, hari terakhir kampanye Pilkada DKI Jakarta 2012 berlangsung dengan tertib, tanpa adanya kericuhan yang ditimbulkan oleh massa. Kedua belah pihak, Jokowi maupun Foke, telah menunjukkan sesuatu yang mengejutkan dengan melakukan suatu hal yang tak terduga, yaitu Jokowi dengan berjoget dan Foke dengan membawa sanak keluarganya.

Kedua calon gubernur tersebut telah melakukan interaksi sosial yang baik dengan masyarakat. Mereka mengadakan acara-acara yang dapat menarik minat masyarakat sehingga kampanye mereka dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini, saya sangat menghargai kerja keras mereka selama ini. 

Namun, ada beberapa hal yang tidak saya anggap bermartabat, yaitu dengan melontarkan kalimat-kalimat yang menjatuhkan pasangan lain. Hal ini sangatlah tidak terpuji dan terkesan vulgar bagi seseorang dengan intelektual tinggi. Sebagai calon gubernur, sudah semestinya mereka dapat mengendalikan emosi mereka. Jika gubernur yang menjadi pedoman warga saja tidak dapat mengendalikan diri, bagaimana mungkin warga dapat melakukannya?

2 hari lagi akan dilaksanakan Pilkada DKI Jakarta. Semoga saja warga Jakarta memilih pasangan yang terbaik dan sesuai hati nurani mereka untuk memimpin Jakarta 5 tahun ke depan, karena sebagai Ibu Kota NKRI, Jakarta memiliki andil yang besar sebagai gambaran negara kita yang tercinta ini, dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal warga dunia, bukan hanya dari korupsi maupun hal negatif lainnya, melainkan pemerintahannya yang jujur dan bermartabat. -VR-

Interaksi Sosial

Pada bulan November 2010, Presiden Amerika Serikat Barack Obama sempat berpidato di hadapan sekitar 6.000 undangan di kampus Universitas Indonesia Depok.
Tapi bukan memorinya tentang Indonesia dan euforia media terhadap kunjungan orang nomor satu di Amerika itu yang meninggalkan kesan mendalam, namun caranya menyampaikan pidato di hadapan mahasiswa dan dosen, serta jutaan pemirsa Indonesia yang menyaksikannya melalui televisi.
Kemampuan sang presiden untuk berbicara di depan khalayak tanpa membaca teks pidato seolah mengingatkan kita kepada sosok pemimpin besar yang pernah menyihir bangsa Indonesia melalui keahliannya beretorika, mantan presiden Soekarno.Kemampuan Obama dalam menyampaikan pesan tentang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam pidato selama kurang lebih tiga puluh menit itu, menginspirasi bangsa Indonesia tentang kebebasan untuk memeluk agama tanpa merasa takut dan dibatasi nilai universal.
Pidatonya yang luar biasa itu seolah mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang tidak terlupakan.
Contoh diatas merupakan salah satu contoh interaksi sosial individu terhadap kelompok, pidato Obama untuk Indonesia ini merupakan salah satu pidato yang tak terlupakan bagi masyarakat Indonesia. Pidato tersebutpun membuat masyarakat Indonesia dan Obama menjalin hubungan yang positif. Dalam hal ini, peran Barrack Obama adalah komunikator, yaitu, orang yang menyampaikan pesan. Pesan positif dan salam hangat yang diberikan Obama terhadap masyarakat Indonesia merupakan hal yang akan terus disegani rakyat Indonesia sebagai tokoh yang besar. Kejadian inipun menjadikan hubungan timbal balik yang setara, dengan sopannya Obama menyapa rakyat Indonesia, menjadikan rakyat Indonesia menghormati Obama.
-B

Tuesday, August 28, 2012

Masalah Sosial di Indonesia


Ambon manise kembali membara pada hari Minggu 11 September 2011 lalu. Kota yang tenang itu tiba-tiba bergolak. Dua kelompok massa bentrok dan mengamuk, menyebabkan kerusakan di berbagai sudut kota. Ibukota provinsi Maluku itu memanas dan mencekam.
Sebab kerusuhan itu dipicu oleh hal yang sepele, yakni kecelakaan seorang tukang ojeg. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam menjelaskan, kematian tukang ojek bernama Darmin Saiman ditunggangi isu pembunuhan yang beredar via pesan pendek (SMS). Emosi warga pun memuncak, sehingga terjadi amuk massa.
Jika ditelisik lebih jauh, kerusuhan di Ambon yang sudah terjadi beberapa kali, semua akibat hasutan informasi berantai. Isu yang tidak berdasar fakta sengaja dihembuskan untuk menyulut emosi kelompok-kelompok yang kerap bertikai. Akibatnya, emosi tak terkendali membuat kekacauan di kota Ambon. Parahnya, persoalan kemudian dibelokkan ke masalah berbau SARA.
Kerusuhan Ambon pertama dan kedua juga diawali dengan persoalan sepele yang berujung ke konflik etnis. Pada kerusuhan 15 Juli 1999 yang diawali dengan bentrok di pulau Saparua, misalnya, menurut hasil investigasi pemerintah, diakibatkan oleh dendam pribadi yang memicu amuk massa lantaran rekayasa pihak-pihak tertentu.
Lantaran mudah tersulut kerusuhan, Ambon dan Maluku pada umumnya, kemudian menjadi ajang adu domba oleh pihak-pihak yang menginginkan Indonesia tercerai berai. Hingga saat ini tercatat sudah 3 kali Ambon dilanda kerusuhan hebat. Dan semuanya berawal dari persoalan sepele: bentrok individu yang sudah jamak terjadi.
Ada dugaan dalam kerusuhan Ambon kali ini terdapat campur tangan asing. Hal ini bisa dilihat dari waktu meletusnya kerusuhan yang bersamaan dengan peringatan sepuluh tahun atas penghancuran gedung kembar WTC (World Trade Center) di Amerika Serikat yang kemudian dijadikan propaganda anti terorisme oleh rezim Bush Junior sebagai presiden saat itu. Perlu disadari, Ambon telah menjadi bagian dari pusaran konflik kepentingan nasional dan regional. Wilayah Indonesia Timur itu menjadi salah satu titik kulminasi konflik di Asia Tenggara. Seperti diketahui, Asia Tenggara dijadikab obyek pusaran konflik dunia pasca perang dunia II. Kawasan ini menjadi “target” perebutan pengaruh bagi kubu Komunis maupun Liberalis, yang ditandai dengan pembentukan pakta militer SEATO (South East Asia Treaty Organizations) oleh Amerika Serikat dan sekutu, dan upaya perluasan Pakta Warsawa Uni Soviet di Vietnam pasca kejatuhan Vietnam Selatan.
Rebutan pengaruh itu diformulasikan dalam bentuk latent. Nah, intervensi kepentingan asing, tampaknya, mengangkat konflik latent tersebut menjadi gejala konflik sosial. Bentrok antar masyarakat banyak terjadi di lokasi yang mengalami ekskalasi konflik yang sangat tinggi.
Pola ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan konflik di tingkat negara. Artinya jika suatu negara memiliki kerawanan konflik, maka akan mengalami efek spiral ke masyarakat. Kasus yang banyak terjadi di Indonesia tercermin dalam konflik yang berdimensikan SARA (Suku, Agama. Ras, dan Antar Golongan). Konflik ini sering timbul secara sporadis ataupun masif, seperti terjadi di Ambon.
Meskipun telah jatuh korban jiwa maupun harta secara percuma dalam kerusuhan tersebut, ada yang patut kita syukuri bersama dan apresiasi secara positif. Bahwa masyarakat akar rumput tidak lagi begitu mudah terpancing atau terprovokasi secara massif seperti yang terjadi pada tahun 1999.
Hal ini diungkapkan oleh Sosiolog Universitas Indonesia yang juga berdarah Maluku, Tamrin Amal Tomagola. Tamrin berpendapat kerusuhan sehari ini masih cara provokasi lama yang selalu dilakukan di sekitar Idul Fitri.
Yang jadi sasaran provokasi adalah kelompok muslim. Namun, itu tidak terjadi. Akar rumput tidak terprovokasi. Buktinya, ada pemuda muslim yang terjebak di wilayah Kristen, diantar pulang kembali ke wilayah muslim. Begitupun sebaliknya. Sudah mulai ada kesadaran dalam diri mereka bahwa yang dulu terjadi adalah akibat mereka diadu domba (VIVAnews. Senin, 12 September 2011).
Pengamat konflik internasional UGM yang juga kelahiran Maluku Dr Eric Hiarej, M.Phil. Dia mengatakan persoalan konflik di Ambon tidak lepas dari proses identifikasi yang diterima masing-masing kelompok agama terhadap isu konflik internasional.
Mereka menganggap konflik yang terjadi di kampungnya sebagai bagian dari perwujudan konflik internasional. “Beberapa kampung, sejak 30 tahun lalu sejak saya kecil sampai sekarang tetap belum berubah. Mereka menganggap kampung Kristen sebagai ‘Israel’ dan kampung Islam sebagai ‘Palestina’,” pungkas Eric (detik.com. Senin, 12/09/2011)
Perbedaan adalah suatu konsekuansi logis yang muncul dalam setiap masyarakat yang bertipe masyarakat majemuk, seperti masyarakat Indonesia. Perbedaan bisa muncul dimana saja. Seperti misalnya perbedaan akan intertepretasi atas suatu gejala sosial yang sama oleh kelompok atau golongan yang berbeda adalah hal yang lumrah dalam masyarakat majemuk.
Dari perbedaan tersebut, selalu ada kemungkinan konflik muncul dalam berbagai bentuknya. Tidak dipungkiri memang dalam masyarakat majemuk yang penuh dengan perbedaan, membuat proses rekontruksi hubungan antar pihak yang bertikai menjadi lebih sulit. Biasanya akar konflik dalam masyarakat seperti ini mempunyai akar konflik yang dalam dan berjalin dengan prasangka dan stereotype yang mendarah daging.
Penyelesaian konflik seperti ini membutuhkan proses yang panjang, membutuhkan komitmen jangka panjang, dan dalam cara pandang yang berkesinambungan. Dalam hal ini menurut Lederach (1999,24), perlu adanya framework kuat yang dapat mengagendakan pemulihan relasional dalam rekonsiliasi sebagai komponen penting dalam program peacebuilding.
Menurut Robert J Schreiter (2000) dalam bukunya Reconciliation; mission and ministry in a chinging social order, paling tidak telah dikenal tiga bentuk rekonsiliasi, yaitu: rekonsiliasi sebagai bentuk perdamaian, rekonsiliasi sebagai ganti dari pembebasan, dan rekonsiliasi terkendali untuk menyelesaikan konflik.
Rekonsiliasi sebagai bentuk perdamaian biasanya ditawarkan oleh para pelaku kekerasan kepada para korbannya. Contoh klasik dari bentuk rekonsiliasi semacam ini adalah tawaran perdamaian dari keluarga Korawa terhadap keluarga Pandawa. Beribu kali keluarga Pandawa menerima siksaan dan kekerasan dari keluarga Korawa walaupun mereka adalah sepupu. Karena keluarga Korawa menyadari akan akibat-akibat lebih jauh yang akan membuat Keluarga Pandawa semakin mendapat dukungan kekuatan dari pihak lain maka Keluarga Korawa mengajak berdamai – berekonsiliasi.
Bentuk kedua dari rekonsiliasi adalah sebagai pengganti pembebasan. Pembebasan di sini bukan saja pembebasan dari praktek-praktek kekerasan tetapi juga pembebasan dari struktur dan sistem yang memungkinkan tindak kekerasan. Dengan rekonsiliasi maka si korban telah terbebaskan dari tindak kekerasan. Dengan rekonsiliasi berarti kekerasan dapat dengan cepat dan mudah ditanggulangi.
Bentuk ketiga, usaha memperkecil konflik. Bentuk ini biasanya diprakarsai oleh pakar konflik yang memediatori kedua belah pihak yang sedang berselisih. Maka, rekonsiliasi mejadi suatu proses perundingan dan diharapkan kedua pihak yang bertentangan dapat saling mengakui kepentingan masing-masing. Karena itu, proses yang seimbang harus diselenggarakan. Masing-masing pihak harus ‘mengorbankan’ sejumlah kepentingannya agar konflik tidak terjadi.
Contoh klasik model rekonsiliasi semacam ini adalah saran yang diberikan oleh para pinitua agar Keluarga Korawa menyerahkan setengah wilayah negara Astina kepada Keluarga Pandawa dan agar Keluarga Pandawa bersedia menerima bagian tersebut walaupun sesungguhnya seluruh kerajaan Astina ini haknya sebagai warisan dari raja Pandu, ayah mereka.
Agar sukses, rekonsiliasi itu harus sesuai dengan makna dasarnya sebagai upaya damai di antara pihak-pihak yang berseteru (re-establishing normal relations between belligerents) harus dipelihara dan dijaga dari kemungkinan provokasi dari kekuatan-kekuatan lain yang tidak menghendakinya. Thomas dan Kilmann (1975) mengusulkan empat langkah agar rekonsiliasi berjalan seperti diharapkan.
  1. Pertama, accommodation, yaitu langkah memahami dan memenuhi kepentingan pihak lain.
  2. Kedua, avoidance, yaitu menghindari dan melupakan hal-hal yang menjadi sumber konflik di masa lalu.
  3. Ketiga, collaboration, yaitu usaha bersama yang sungguh-sungguh dalam mencari solusi terbaik.
  4. Keempat, compromise, yaitu kesediaan dari kedua belah pihak untuk berbagi dan membuat kompromi-kompromi yang menguntungkan bersama.
Menurut kelompok kami, konflik sosial yang terjadi di Ambon pada hari Minggu 11 September 2011 yang disebabkan oleh tewasnya tukang ojek di sekitar RMS sehingga memicu bentrok antara dua kelompok yang berbeda agama. Menurut kami, cara terbaik untuk menyelesaikan konflik ini adalah dengan memperbaiki rekonsiliasi yang ada di Maluku Ambon ini. Selain itu, seharusnya penduduk yang ada, perlu menyadari akan pentingnya kerukunan antar berbagai kelompok dan agama yang ada di sana. Mereka perlu diberikan penyuluhan akan warna warni suku bangsa, ras, maupun agama yang ada di Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh yang harus dijaga karena merupakan ciri khas dari Bangsa Indonesia itu sendiri. Mereka perlu diberi arahan akan nuansa yang baru jika adanya kerukunan antar umat beragama maupun berbagai suku dan kelompok.
Cara lain untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan memperkokoh pertahanan yang ada di daerah tersebut agar mampu melerai pihak – pihak yang bersengketa. Selain itu, dengan merekatkan interksi sosial natar masyarakatnya akan mampu membendung konflik – konflik yang ada. Interaksi sosial antar warga dapat tumbuh jika mereka sadar akan kondisi lingkungan mereka. Jadi, intinya penyelesaian masalah ini hanya melalui kesadaran warganya dan interaksi sosial yang kuat dan kokoh.


Contoh lain SARA di Indonesia adalah ceramah Rhoma Irama beberapa minggu yang lalu. Ceramah tersebut    mengandung SARA dan menimbulkan kontroversi di berbagai saluran televisi:



Welcome ^_^



W.E.L.C.O.M.E  to all visitors !

Sesuai namanya ‘OUR PROJECT SOCIOLOGY’ , blog ini dibuat berdasarkan tugas sekolah mata pelajaran sosiologi. Di blog ini kami menyediakan informasi yang berkaitan dengan sosiologi.
Semoga informasi yang kami sajikan melalui blog ini dapat bermanfaat bagi kalian. Untuk kritik dan saran, kalian dapat menghubungi kami melalui email dan twitter yang tertera di kolom Contact Us.
Akhir kata, kami selaku pembuat blog mengucapkan terima kasih dan selamat membaca blog kami!!