Pada bulan November 2010, Presiden Amerika Serikat Barack Obama
sempat berpidato di hadapan sekitar 6.000 undangan di kampus
Universitas Indonesia Depok.
Tapi bukan memorinya tentang Indonesia dan euforia media terhadap
kunjungan orang nomor satu di Amerika itu yang meninggalkan kesan
mendalam, namun caranya menyampaikan pidato di hadapan mahasiswa dan
dosen, serta jutaan pemirsa Indonesia yang menyaksikannya melalui
televisi.
Kemampuan sang presiden untuk berbicara di depan khalayak tanpa
membaca teks pidato seolah mengingatkan kita kepada sosok pemimpin
besar yang pernah menyihir bangsa Indonesia melalui keahliannya
beretorika, mantan presiden Soekarno.Kemampuan Obama
dalam menyampaikan pesan tentang Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika dalam pidato selama kurang lebih tiga puluh menit itu,
menginspirasi bangsa Indonesia tentang kebebasan untuk memeluk agama
tanpa merasa takut dan dibatasi nilai universal.
Pidatonya yang luar biasa itu seolah mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang tidak terlupakan.
Contoh diatas merupakan salah satu contoh interaksi sosial individu terhadap kelompok, pidato Obama untuk Indonesia ini merupakan salah satu pidato yang tak terlupakan bagi masyarakat Indonesia. Pidato tersebutpun membuat masyarakat Indonesia dan Obama menjalin hubungan yang positif. Dalam hal ini, peran Barrack Obama adalah komunikator, yaitu, orang yang menyampaikan pesan. Pesan positif dan salam hangat yang diberikan Obama terhadap masyarakat Indonesia merupakan hal yang akan terus disegani rakyat Indonesia sebagai tokoh yang besar. Kejadian inipun menjadikan hubungan timbal balik yang setara, dengan sopannya Obama menyapa rakyat Indonesia, menjadikan rakyat Indonesia menghormati Obama.
-B
No comments:
Post a Comment